Inilah 4 Manfaat Blustru Yang Tidak Banyak Orang Tahu!
Table of Contents
Inilah 4 Manfaat Blustru Yang Tidak Banyak Orang Tahu!
Kita tentu banyak mendengar atau mendapat nasehat dari orang tua kita, atau nenek kita untuk menggunakan resep tanaman herbal dalam mengobati. Saran atau nasehat tersebut bukan tanpa alasan, karena sebetulnya secara empiris telah banyak terbukti manfaat herbal dalam mengobati berbagai jenis penyakit. Salah satu tanaman herbal itu misalnya blustru. Tanaman yang tidak asing ini kemudian diteliti lebih lanjut melalui uji ilmiah. Berikut kami sampaikan kepada Anda uji ilmiah blustru sebagai antioksidan, antidendawan, antialergi danhepatoprotektor. Semoga bermanfaat!
1. Penelitian Blustru Sebagai Antioksidan
Delapan senyawa aktif yang terdapat pada buah blustru diuji dengan menggunakan metode DPPH (1,1-diphenil-2-picrylhydrazil). DPPH merupakan salah satu metode yang digunakan untuk menguji aktivitas antioksidan. Hasil menunjukkan kekuatan aktivitas senyawa tersebut dibandingkan asam askorbat yaitu )dimulai dari yang tertinggi) p-coumaric acid > asam askorbat > 1-0-caffeoyl-alpha-D-glucose > 1-0-p-coumaroyl-alpha-D-glucose > 1-0-feruloyl-alpha-D-glucose > luteolin-7-0-alpha-D-glucuronide methyl ester > diosmetin-7-0-alpha-D-gluconoride methyl ester > apigenin-7-0-alpha-D-glucuronide emthyl ester > 1-0-(4-hydroxybenzoyl) glucose
2. Penelitian Blustru Sebagai Anticendawan
Estrak kasar [etroleum eter buah blustru hanya menunjukkan aktivitas lemah hingga moderat melawan cendawan Candida albicansa (7 +- 0,46 mm) dan Aspergillus niger (8 +- 0,53 mm)
3. Penelitian Blustru Sebagai Antialergi
Penelitian yang membandingkan efek antialergi bryonolic acid-yang diisolasi dari sel kultur Luffa cylindrica L-dan glycyrrhetinic acid yang ebrasa dari akarmanis (Glycyrrhiza glabra) menunjukkan, pada dosis glycyrrhetinic acid 600 mg/kg bobot tubuh tikus, bryonolic acid mampu menghambat homologous passive cutaneous anaphylaxis (PCA) lebih kuat dibandingkan glycirrhetinic acid. kelebihan lainnya, bryonolic acid menunjukkan penundaan hipersensitivitas dan tidak ada efek samping yang terlihat pada hewan percobaan dibandingkan glycyrrhetinic acid.
5. Penelitian Blustru Sebagai Hepatoprotektor
Ekstrak etanol; dan ekstrak air buah blustru pada dosis 100 dan 200 mg/kg yang diujikan pada tikus albino yang diinduksi paracetamol (2 mg/kg) menunjukkan adanya aktivitas heptoprotektif. Hal itu juga diperkuat melalui studi histopatologis.
Kita tentu banyak mendengar atau mendapat nasehat dari orang tua kita, atau nenek kita untuk menggunakan resep tanaman herbal dalam mengobati. Saran atau nasehat tersebut bukan tanpa alasan, karena sebetulnya secara empiris telah banyak terbukti manfaat herbal dalam mengobati berbagai jenis penyakit. Salah satu tanaman herbal itu misalnya blustru. Tanaman yang tidak asing ini kemudian diteliti lebih lanjut melalui uji ilmiah. Berikut kami sampaikan kepada Anda uji ilmiah blustru sebagai antioksidan, antidendawan, antialergi danhepatoprotektor. Semoga bermanfaat!
1. Penelitian Blustru Sebagai Antioksidan
Delapan senyawa aktif yang terdapat pada buah blustru diuji dengan menggunakan metode DPPH (1,1-diphenil-2-picrylhydrazil). DPPH merupakan salah satu metode yang digunakan untuk menguji aktivitas antioksidan. Hasil menunjukkan kekuatan aktivitas senyawa tersebut dibandingkan asam askorbat yaitu )dimulai dari yang tertinggi) p-coumaric acid > asam askorbat > 1-0-caffeoyl-alpha-D-glucose > 1-0-p-coumaroyl-alpha-D-glucose > 1-0-feruloyl-alpha-D-glucose > luteolin-7-0-alpha-D-glucuronide methyl ester > diosmetin-7-0-alpha-D-gluconoride methyl ester > apigenin-7-0-alpha-D-glucuronide emthyl ester > 1-0-(4-hydroxybenzoyl) glucose
2. Penelitian Blustru Sebagai Anticendawan
Estrak kasar [etroleum eter buah blustru hanya menunjukkan aktivitas lemah hingga moderat melawan cendawan Candida albicansa (7 +- 0,46 mm) dan Aspergillus niger (8 +- 0,53 mm)
3. Penelitian Blustru Sebagai Antialergi
Penelitian yang membandingkan efek antialergi bryonolic acid-yang diisolasi dari sel kultur Luffa cylindrica L-dan glycyrrhetinic acid yang ebrasa dari akarmanis (Glycyrrhiza glabra) menunjukkan, pada dosis glycyrrhetinic acid 600 mg/kg bobot tubuh tikus, bryonolic acid mampu menghambat homologous passive cutaneous anaphylaxis (PCA) lebih kuat dibandingkan glycirrhetinic acid. kelebihan lainnya, bryonolic acid menunjukkan penundaan hipersensitivitas dan tidak ada efek samping yang terlihat pada hewan percobaan dibandingkan glycyrrhetinic acid.
5. Penelitian Blustru Sebagai Hepatoprotektor
Ekstrak etanol; dan ekstrak air buah blustru pada dosis 100 dan 200 mg/kg yang diujikan pada tikus albino yang diinduksi paracetamol (2 mg/kg) menunjukkan adanya aktivitas heptoprotektif. Hal itu juga diperkuat melalui studi histopatologis.

Posting Komentar