Penelitian Ilmiah Biduri Untuk Menyembuhkan Luka Dan Anti Nyamuk

Table of Contents


Kita tentu banyak mendengar berbagai khasiat alami yang dari tanaman di sekitar kita. Tetapi kita terkadang meremehkan keberadaan tanaman herbal dan lebih sering menggunakan obat kimia untuk penyembuhan sebuah penyakit. Faktanya, pemanfaatan tanaman herbal telah dilakukan secara turun temurun, sehingga hal ini menjadi alasan bagi para peneliti untuk melakukan penelitian secara ilmiah lebih lanjut.

Berikut kami ulas tentang penelitian yang membuktikan bahwa biduri memiliki efek menyembuhkan luka dan anti nyamuk. Semoga bermanfaat!

1. Biduri Sebagai Penyembuh Luka

Penelitian bertujuan menginvestigasi efek akar kulit kayu pada aktivitas penyembuhan luka pada tikus dengan model pemotongan, penyayatan, dan pemulihan luka ruang/rongga mati (adanya rongga pada luka yang terjadi karena penjahitan yang tidak lapis demi lapis) pada tikus. Tikus wistar albino diberi perlakuan formulasi ekstrak dalam bentuk salep dengan menggunakan salep BP sederhana sebagai dasar. Salep 5% (w/w) diaplikasikan sehari sekali pada model luka pemotongan. Ekstrak etanol diberikan secara oral dengan dosis 100 mg, 200 mg, dan 400 mg mg/kg pada model luka penyayatan dan penyembuhan luka ruang mati.

Tikus kelompok standar diberi perlakuan 5% salep povidone iodine pada bagian luar. Persentase penutupan luka, waktu epitelisasi, kandungan hidroksiprolin, dan area bekas luka pada epitelisasi lengkap dihitung. Aplikasi topical pada model bekas luka dan waktu epitelisasi menurun. Pada luka sayatan dan luka ruang mati retaknya kekuatan luka dan hidroksiprolin meningkat. Biduri (Calotropis gigantean) mempercepat penyembuhan luka pada tikus.

2. Biduri Bermanfaat Sebagai Anti Nyamuk

Ekstrak daun biduri (Calotropis gigantean) dan Bacillus thuringiensis dites pada larva instar pertama hingga keempat dan pupa Anopheles stephensi, Aedes aegeypti, dan Culex quinquefasciatus. Tanaman dikumpulkan dari sekitar Bharathiar University, Coimbatore, Indoa. Daun Calotropis gigantean dicuci dengan air mengalir dan dikeringkan pada suhu kamar kemudian diblender. Bubuk dan daun 500 g diekstrak dengan 1,5 L pelarut organic metanil selama 8 jam menggunakan aparsatus Soxhlet lalu disaring.


Ekstrak daun kasar dievaporasikan hingga kering dalam evaporator vakum putar. Ekstrak tanaman menunjukkan efek larvacidal dan pupicidal setelah 24 jam terekspos, tidak ada kematian terjadi pada kelompok control. Untuk Calotropis gigantean dan B. thuringiensis, nilai konsentrasi letal median (LC50) diamati untuk melihat aktivitas larvacidal dan pupicidal melawan spesies vector nyamuk Anopheles stephensi, Aedes aegypti, serta Culex quinquefasciatus. Studi membuktikan ekstrak methanol daun biduri dan bakteri insektisida B. thuringiensis memiliki kandungan zat mosquitocidal. 

Posting Komentar