Penelitian Blustru Sebagai Anti HIV 1 Dan Efek Imunomodulator
Table of Contents
Penelitian Blustru Sebagai Anti HIV 1 Dan Efek
Imunomodulator
Sebagai salah satu tanaman tropis, blustru (Luffa
cylindrica) pasti banyak kita temui di berbagai tempat. Biasanya kita mendapati
blustru sebagai tanaman pagar yang merambat dan dimanfaatkan sebagai sayuran.
Biasanya tumbuh di tepi sungai atau tepi pantai. Namun, beberapa resep herbal
warisan rupanya menyebutkan blustru memiliki banyak manfaat bagi kesehatan
kita. Banyaknya bukti empiris mendorong para ahli untuk melakukan penelitian
lebih lanjut. Berikut beberapa penelitian ilmiah blustru sebagai herbal anti
HIV 1 dan kaitannya sebagai efek imunomodulator. Semoga bermanfaat!
Anti HIV-1
Luffin P1, peptida ribosome-inavtivating terkecil dari biji
Luffa cylindrical ditemukan memiliki aktivitas anti HIV-1 pada garis C8166 yang
diinfeksi HIV-1 dan mampu berikatan dengan HIV Rev Response Element.
Spektroskopi resonansi magnetik inti menampakkan bawah luffin P1 yang terdiri
dari motif helix-loop-helix, dengan dua alfa heliks erat berkaitan dengan
ikatan disulfida.
Efek Imunomodulator
Dua triterpenoids (sapogenins 1 dan 2) diisolasi dari Luffa
cylindrica untuk mengkaji aktivitas imunomodulatornya pada mencit Balb/c
jantan. Mencit diberi perlakuan tiga dosis sapogenins 1 dan 2 (10, 30, dan 100
mg/kg) dan levamisole (2,5 mg/kg) digunakan sebagai obat referensi standar
selama 15 hari.
Respon imun terhadap T-dependent antigent SRBCs diamati
mengguakan parameter HA, PFC, DTH, poliferasi limfosit dan fagositosis.
Berkenaan dengan parameter tersebut, sapogenins 1 dan 2 menunjukkan peningkatan
signifikan pada respon HA, PFC, dan DTH pada dosis 10 mg/kg (p<0,01) dan 100
mg/kg (p<0,001).
Sapogenins 1 dan 2 juga menunjukkan penurunan uji
proliferasi limfosit pada dosis tertentu dan kenaikan aktivitas fagositik
makrofag. Secara keseluruhan, sapogenins 1 dan 2 menunjukkan efek
imunomodulator tergantung dosis pada fungsi imun mencit secara in vivo.

Posting Komentar