Manfaat Beringin Sebagai Antinosiseptik, Antimikrobakteri, dan Antiviral
Table of Contents
Baik di perkotaan maupun pedesaan, kita masih mudah
menemukan pohon beringin. Selain menyejukkan udara di sekitarnya, beringin juga
ternyata memiliki beberapa manfaat bagi kesehatan didukung oleh penelitian yang
dilakukan menggunakan beringin. Berikut kami sampaikan ulasan penelitian
beringin dan manfaatnya bagi kesehatan. Semoga bermanfaat!
Antinosiseptik
Ekstrak air dan alkohol daun beringin (Ficus benjamina)
menunjukkan aktivitas antinosiseptif pada tes analgesiometer.
Antimikobakteri
Kandungan fenolik total (Folin-Ciocalteu) daun Ficus
benjamina dan Ficus luschnathiana dievaluasi dan disaring menggunakan HPLC-DAD
(high performance liquid chromatography diode array detector). Ekstrak kasar
Ficus luschnathiana (CE) menghasilkan kandungan fenolik lebih tinggi
dibandingkan F. Benjamina (149,92 +- 3,65 versus 122,63 +- 2,79 mg GAE-gallic
acid equivalents). Kaemferol (1,63 +- 0,16 mg/g bobot kering CE) dan asam
klorogenik (17,77 +- 0,57 mg/g fraksi butanol) diidentifikasi dan dihitung pada
F. Benjamina, sementara asam rutin (1,39 +- 0,20 mg/g), caffeic (1,14 +-
0,13/g) dan chlorogenic (3,73 +- 0,29 mg/g) dihitung pada CE F. Luschnathiana.
Fraksi rutin (15,55 +- 1,92) dan kuersetin (3,53 +- 0,12 mg/g) dihitung dalam
fraksi etil asetat dan butanol. Aktivitas antimikrobalteri CE dan fraksi-fraksi
dievaluasi melawan Mycobacterium smegmatis dengan metode broth microdilution.
Fraksi etil asetat F. Benjamina dan fraksi n-butanol F. Luschnathiana
menunjukkan aktivitas penghambatan tertinggi (MIC = 312,5- microgram.ml dan
156,25 microgram/ml) berturut-turut. Studi lebih lanjut diperlukan untuk
mengetahui senyawa yang secara langsung berkaitan dengan aktivitas
antimikrobakteri.
Antiviral
Ekstrak etanol kasar daun Ficus benajmina kuat menghambat
infeksi sel virus herpes simplez 1 dan 2 (HSV-1/2) juga virus Varicella zoster
(VZV) secara in vitro. Fraksinasi bioassay-guided ekstrak kasar menunjukkan
penghambatan paling efisien HSV-1 dan HSV-2 diperoleh dengan fraksi flavanoid.
Tiga glikosida flavon (1) quercetin 3-O-robinobioside, menunjukkan efisiensi
antiviral tertinggi dipilih dan strukturnya ditetapkan melalui analisis
spektroskopik termasuk NMR dan spektrometri massa (MS). Tiga flavon tersebut
sangat efektif melawan HSV-1 mencapai indeks selektivitas (SI) 266, 100, dan
666 untuk senyawa 1, 2, dan 3 berturut-turut, sementara SI aglycons, quercetin
dan kaemferol dihitung hanya 7,1 dan 3,2, berturut-turut. Kaemferol
3-O-robinobioside menunjukkan SI mirip dengan acyclovir (ACV), obat anti-HSV
standar. Meskipun sangat efektif melawan HSV-1 dan HSV-2, glikosida flavon itu
tidak menunjukkan aktivitas signifikan melawan VZV.

Posting Komentar