Inilah Penggunaan Angsana Untuk Kesehatan Sejak Jaman Dahulu

Table of Contents



Kita tentu sering melihat pohon yang satu ini. Selain memberikan keteduhan dan kesejukan, rupanya telah sejak lama pohon Angsana dimanfaatkan untuk kesehatan. Apa saja manfaatnya? Berikut ulasan kami, semoga bermanfaat :

Penelitian yang dilakukan Pulunggono HB (1999) di Amarasi, kabupaten Kupang serta di Mollo dan Amanatun, kabupaten Timor Tengah Selatan, Timor Barat yang umumnya ditinggali suku Dawan mengungkapkan penggunaan kayu angsana untuk bahan bangunan. Kayu yang disebut penduduk Timor Barat dengan nama Matani itu lebih disukai daripada kayu kabesak Acacia leucophloea karena daya tahannya yang baik.

Di Jakarta dan Yogyakarta, angsana mudah ditemui di pinggiran jalan utama yang luas sebagai pohon peneduh. Seduhan daunnya dapat digunakan sebagai sampo. Di Kalimantan, getahnya yang berwarna merah-kino-dijadikan pewarna tekstil maupun keranjang agar berwarna kemerahan.

Kino berperan seperti tanin sehingga kerap digunakan sebagai pengkelat untuk penderita diare kronis, keputihan, kelebihan lendir, dan wasir. Secara tradisional, penduduk di Kampung Naga Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, menggunakan getahnya untuk mengobati sakit gigi.

Getah daun tanaman yang dikenal penduduk lokal dengan makari itu dimanfaatkan penduduk Timor Timur untuk mengatasi luka ringan pada bagian mulut dengan cara aplikasi di bagian luar. Penduduk Manokwari, Papua, memanfaatkan kulit kayunya untuk mengobati disentri. Pengobat tradisional di Desa Sukajadi, Tamansari, Bogor, jawa barat, menggunakan daun, getah, dan kulit kayunya untuk obat. Penyakit yang diatasi yaitu demam, sakit gigi, disentri dan sakit paru-paru. Caranya dengan menghancurkan bagian tanaman atau meremas baik ditambahkan dengan air atau tidak dan tidak melalui proses pemanasan. Aplikasi pada penyakit tersebut dilakukan dengan cara meminum langsung dan dioleskan pada bagian luar tubuh. Misalnya, untuk sakit gigi, ramuan terdiri dari 3 tetes air perasan daun angsana, 1 bagian akar Solanum torvum, dan 3 lembar daun cabai Capsicum annum yang ditumbuk kemudian dioleskan sebagai obat luar.

Di Distrik Buin dan Siwai, Papua Nugini, angsana digunakan untuk mengatasi masalah penyakit mata termasuk infeksi mata, blepharitis-peradangan atau infeksi pada kelopak mata yang ditandai dengan pembengkakan dan juga butiran-butiran seperti pasir di kelopak mata, stye-infeksi kelenjar di tepi atau di bawah kelopak mata, dan kalazion-inflamasi granulomatosa kelenjar meibomian di kelopak mata atas atau bawah yang ditandai dengan pembengkakan setempat dan biasanya berkembang lambat selama beberapa minggu. Selain itu, di Buin, angsana juga digunakan untuk mengatasi anemia, luka luar, sakit kuning dan merangsang kelahiran.

Di Kepualauan Vanuatu, daun angsana dimanfaatkan untuk mengatasi amenorrhea-suatu kondisi tidak terjadinya haid pada masa pubertas maupun dewasa. Amenorrhea merupakan gejala yang mendasari suatu penyakit. Caranya dengan merebus segenggam penuh daun dalam air kemudian biarkan hingga dingin lalu diminum sehari sekali. Sementara itu perut dikompres dengan daun angsana hangat yang sebelumnya dipanaskan.

Daun angsana juga digunakan sebagai perangsang menstruasi pertama setelah melahirkan. Penduduk Vanuatu mengolah daun menjadi teh dan meminumnya ketika dingin setiap hari sampai muncul menstruasi. Daunnya yang dipanaskan juga dikompres pada pusar dan diaplikasikan bersamaan dengan minum teh. Untuk merangsang sterilisasi alias berfungsi sebagai kontrasepsi, ranting muda angsana sebanyak 5-10 cm dsan ranting muda Casuarina aquisetifolia dalam jumlah sama dikunyak selama lima hari. Airnya ditelan sedangkan ampasnya dibuang.

Di Filipina, khususnya di wilayah Tigbauan, Iloilo, angsana digunakan untuk mengobati penyakit kulit. Namun, tidak dijelaskan secara spesifik dalam jurnal penyakit kulit seperti apa yang dimaksud. Masih di Filipina, penelitian yang dilakukan pada suku Higaonon di Rogongon, Iligan City, Mindanao, menyebutkan tagok digunakan untuk mengatasi gusi bengkak dengan cara melukai kulit kayu kemudian mengambil getahnya. Getah itulah yang dioleskan langsung pada gusi yang bekngkak. Penelitian tanaman obat di Research Institutes of South-west Nigeria, Nigeria menyebutkan penggunaan angsana untuk filariasis-penyakit kaki gajah.


Di Kepulauan Vanuatu dan Keldonia Baru, dekoksi-sediaan herbal cair yang dibuat dengan mengekstraksi sediaan herbal dengan air pada suhu 90 derajat C selama 30 menit-daunnya digunakan untuk mengatasi keracunan ikan ciguatera. Dekoksi juga dapat dibuat dengan menggiling kulit kayu angsana dengan kulit batang dadap ayam erythrina variegata. Setelah ditambah air, ramuan diminum.

Posting Komentar